Nias Selatan – Kabarkriminal.online
Dunia pendidikan di Kabupaten Nias Selatan kembali diguncang isu serius setelah muncul dugaan penyelewengan administrasi di SMA Swasta Harapan Susua. Berdasarkan laporan masyarakat yang diterima media, sekolah tersebut diduga melakukan pengelembungan jumlah siswa serta mencatat sejumlah guru sebagai tenaga pengajar tetap meski tidak pernah hadir di kelas. Dugaan ini menimbulkan keresahan publik dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai transparansi serta integritas pengelolaan sekolah swasta tersebut.
Dalam laporan investigasi, jumlah siswa yang tercatat secara administrasi diduga tidak sebanding dengan jumlah riil siswa yang hadir mengikuti proses belajar-mengajar. Data yang tidak sinkron ini dikhawatirkan berkaitan dengan upaya pengelembungan data untuk memperoleh dana pendidikan yang lebih besar dari pemerintah. Praktik semacam ini, bila benar terjadi, tentu berpotensi merugikan negara sekaligus merugikan dunia pendidikan di daerah.
Selain persoalan jumlah siswa, dugaan manipulasi juga menyasar pada keberadaan sejumlah guru. Beberapa nama tenaga pendidik tercatat aktif dalam dokumen resmi sekolah, namun warga sekitar menegaskan bahwa mereka tidak pernah terlihat hadir untuk mengajar. Nama-nama yang disebut dalam laporan itu antara lain: Desember Laia, Adilsabar Laia, Elman Wati Lature, Ester Samarinda Zagoto, Ozarago Laia, Marnis Wati Giawa, dan Gakhimi Wau.
Masyarakat sekitar menyebutkan bahwa guru-guru tersebut tidak pernah terpantau berada di ruang kelas maupun lingkungan sekolah. Namun ironisnya, nama mereka tetap tercantum dalam daftar hadir, jadwal mengajar, hingga laporan administrasi bulanan. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada praktik manipulasi data yang dilakukan secara sistematis di SMA Swasta Harapan Susua.
Menanggapi laporan itu, media investigasi telah mengirimkan surat resmi kepada Kepala Sekolah SMA Swasta Harapan Susua, Antonius Laia. Surat tersebut meminta klarifikasi dan konfirmasi resmi terkait dugaan adanya penyelewengan data siswa serta keberadaan guru yang tidak aktif mengajar. Media menegaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk memastikan setiap informasi yang dipublikasikan akurat, berimbang, dan tidak merugikan pihak tertentu tanpa dasar yang jelas.
Pemimpin Redaksi Selektifnews.com, Noverius, menyampaikan bahwa pihaknya menunggu penjelasan tertulis atau melalui pertemuan langsung dengan pihak sekolah. “Kami ingin informasi yang sampai ke masyarakat benar-benar terverifikasi. Prinsip kami adalah transparansi dan akuntabilitas, apalagi ini menyangkut dunia pendidikan yang menyangkut masa depan generasi muda,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Sikap media yang memberikan ruang konfirmasi dinilai sebagai langkah tepat untuk menjaga keseimbangan informasi. Masyarakat berharap pihak sekolah segera memberikan jawaban agar polemik ini tidak berlarut-larut. Jika dugaan itu benar adanya, masyarakat meminta aparat berwenang turun tangan melakukan investigasi lebih lanjut. Sebaliknya, jika tuduhan tidak terbukti, pihak sekolah diharapkan dapat memberikan klarifikasi agar nama baik lembaga pendidikan tetap terjaga.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih menunggu tanggapan resmi dari Kepala Sekolah SMA Swasta Harapan Susua. Publik kini menantikan jawaban atas dugaan serius ini, yang bukan hanya menyangkut integritas sekolah tersebut, melainkan juga kredibilitas pengelolaan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan secara keseluruhan.






